Sepekan Tanpa Jawaban, Suara Mahasiswa Akhir Tak Digubris Petinggi Kampus

- Publisher

Rabu, 24 Desember 2025 - 21:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

*Penulis: Mat Juhri, (Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam UIN Madura)

 

KOLOM – Penundaan wisuda yang tak kunjung menemukan kejelasan menunjukkan kegagalan serius pimpinan kampus dalam menjalankan tanggung jawab akademik dan moralnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hingga kini, mahasiswa tidak mendapatkan kepastian waktu, penjelasan yang memadai, maupun komunikasi yang transparan.

Pimpinan kampus tampak memilih bersikap diam, sikap kebisuan yang disengaja, mungkin ketidakpedulian. Akhirnya menjadi kelalaian administratif.

Mahasiswa yang telah menuntaskan seluruh kewajiban akademik dibiarkan berada dalam posisi menggantung, tanpa arah dan tanpa kepastian.

Konsekuensi yang tidak ringan, proses melamar pekerjaan tertunda, pengurusan administrasi terhambat, dan tekanan psikologis kian menumpuk.

Sayangnya, kondisi ini seolah tidak dipandang sebagai persoalan mendesak oleh pihak yang seharusnya bertanggung jawab penuh, dan penundaan ini mengganggu aktivitas kelembagaan mahasiswa.

Baca Juga :  DPRD Bukan Lembaga Wisata, APBD Bukan Tiket Pelesiran

Ach. Subairi, salah satu pengurus Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) di Fakultas Tarbiyah, mengungkapkan bahwa pelaksanaan wisuda yang sebelumnya dijadwalkan pada 20–21 Desember telah menghambat penyelenggaraan kegiatan MFA.

Ia menegaskan bahwa penetapan jadwal wisuda yang dilakukan secara tiba-tiba sangat merugikan pihaknya, mengingat berbagai persiapan telah dilakukan sejak jauh hari.

Lebih lanjut, ia menyayangkan keputusan kampus yang kembali mengundur pelaksanaan wisuda tanpa disertai kepastian tanggal pengganti, padahal HMPS tengah mempersiapkan pelaksanaan MFA di akhir Desember.

Situasi yang memperlihatkan lemahnya sistem penjadwalan dan koordinasi institusi, sehingga pada akhirnya merugikan kegiatan mahasiswa.

Maka itu, ia berharap pihak kampus segera melakukan pembenahan sistem agar tidak terus-menerus menimbulkan kerugian bagi mahasiswa.

Kekecewaan serupa disampaikan oleh Aminatus Zahroh, salah satu peserta wisuda dari Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ushuluddin dan Dakwah.

Baca Juga :  Torehkan Prestasi, Tiga Mahasiswa FEBI UIN Madura Tampil di Forum Internasional ICONIS

Ia menilai bahwa meskipun pihak kampus telah mengeluarkan edaran terkait jadwal wisuda, penetapan tanggal seharusnya tidak dilakukan apabila belum benar-benar pasti.

Menurutnya, banyak mahasiswa telah mempersiapkan hampir seluruh kebutuhan wisuda bahkan mencapai 90 persen untuk momen yang telah lama dinantikan tersebut.

Ia juga menyoroti dampak penundaan terhadap orang tua mahasiswa.

Tidak sedikit wali peserta wisuda yang merantau dan telah pulang jauh-jauh demi menghadiri prosesi kelulusan anaknya, namun harus kembali menerima kenyataan bahwa jadwal wisuda berubah secara mendadak.

Baginya, perubahan ini tidak hanya membebani mahasiswa dan keluarga secara biaya dan waktu, bahkan berpotensi merusak reputasi kampus.

Ketidakpastian jadwal wisuda, menurutnya, bukan persoalan baru, melainkan masalah yang terus berulang tanpa penyelesaian yang jelas.

Baca Juga :  Audiensi HMI-UIN Madura Bahas PBAK dan Atribut Hilang

Kampus semestinya hadir sebagai institusi yang menjunjung tinggi keadilan, akuntabilitas, dan komunikasi yang sehat. Namun realitas yang dirasakan mahasiswa justru sebaliknya.

Aspirasi tidak ditanggapi, pertanyaan dibiarkan menggantung, dan janji-janji institusional tak kunjung direalisasikan.

Pimpinan kampus tampak lebih memilih bungkam daripada hadir secara terbuka untuk menjelaskan dan menyelesaikan persoalan.

Kondisi semacam ini terus dibiarkan, akibatnya kepercayaan mahasiswa terhadap institusi menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.

Pimpinan kampus tidak dapat terus bersembunyi di balik dalih birokrasi dan alasan teknis.

Sudah saatnya mereka membuka mata, mendengar suara mahasiswa, dan mengambil langkah nyata.

Dari persoalan ini, diam bukanlah solusi. Sikap buta dan tuli justru hanya memperpanjang masalah dan memperdalam jarak antara kampus dan mahasiswa.

Follow WhatsApp Channel timesin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Disfungsi Pemerintahan dalam Pelayanan Publik
Kolaborasi Seni berbahasa dan Budaya di ujung timur
Minimal Keinginan untuk Membaca Di tengah Kegembiraan Scroll Sosial Media
Sumenep di Bawah Bayang-bayang Perusakan Lingkungan
Transformasi Pendidikan: Kunci Akselerasi Pertumbuhan Indonesia di Tengah Dinamika Global
Menyambut 2026: Pemulihan Nasional, Pendidikan Transformatif, dan Masa Depan Demokrasi Digital
NDP Sebagai Basis Ketahanan Ideologi dan Karakter Kader HMI dalam Membangun Kepemimpinan Tranformasional
NDP yang Dijinakkan: Ketika Kaderisasi Gagal Melahirkan Kepemimpinan Transformasional

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:21 WIB

Disfungsi Pemerintahan dalam Pelayanan Publik

Rabu, 7 Januari 2026 - 13:13 WIB

Kolaborasi Seni berbahasa dan Budaya di ujung timur

Rabu, 7 Januari 2026 - 07:57 WIB

Minimal Keinginan untuk Membaca Di tengah Kegembiraan Scroll Sosial Media

Senin, 5 Januari 2026 - 16:56 WIB

Sumenep di Bawah Bayang-bayang Perusakan Lingkungan

Sabtu, 27 Desember 2025 - 11:32 WIB

Transformasi Pendidikan: Kunci Akselerasi Pertumbuhan Indonesia di Tengah Dinamika Global

Berita Terbaru

Kantor Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Sumenep. (Doc. Istimewa)

News

Delapan Pejabat Berebut Kursi Sekda Sumenep

Selasa, 3 Feb 2026 - 20:16 WIB

Kolom

Disfungsi Pemerintahan dalam Pelayanan Publik

Selasa, 3 Feb 2026 - 10:21 WIB

You cannot copy content of this page