SDM Petani Muda Diprioritaskan Meningkat

- Publisher

Minggu, 9 November 2025 - 14:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MALANG – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (BEM FP UB) bekerja sama dengan Pemuda Inspirasi Nusantara (PIN) menggelar kegiatan Dialogista bertajuk “Pemuda dan Ketahanan Pangan: Menggali Potensi Pemuda dalam Menjaga Kedaulatan Pangan Nasional”, di Aula Gedung Sentral Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang, Jumat (7/11).

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Dr. Mochamad Syamsulhadi, S.P., M.P. (Ketua Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan FP UB), Heru Sutomo (Ketua P4S Restu Bumi), dan I Nyoman Sugidana (Pimpinan Pusat KMHDI 2023–2025). Acara dipandu oleh Tazkiyyah, mahasiswa semester 7 Fakultas Pertanian UB.

Dalam pemaparannya, Dr. Mochamad Syamsulhadi menegaskan bahwa peningkatan sumber daya manusia (SDM), khususnya di kalangan petani muda, menjadi kunci memperkuat ketahanan pangan nasional.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Per Oktober 2025, anggaran pertanian hanya meningkat 13 persen dari total Rp140 triliun. Tahun 2020 anggaran pertanian masih Rp75 triliun, sementara tahun 2024 sebesar Rp119 triliun. Namun program cetak sawah dan food estate belum banyak mengubah peta potensi pangan nasional,” ujarnya.

Baca Juga :  Seret Nama Kadis, Akitivis Minta Kasus PATM 2019 di Sumenep Dibuka Kembali

Ia menambahkan, “Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sumatera Selatan masih menjadi sentra utama pertanian. Pembukaan lahan di Papua belum bisa menjadi basis lumbung pangan nasional. Fokus utama seharusnya pada peningkatan kapasitas petani, bukan semata kebijakan instan seperti subsidi pupuk atau pembagian alat pertanian.”

Sementara itu, Heru Sutomo menyoroti tantangan perubahan iklim dan menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian.

“Tiga tahun terakhir fenomena kemarau basah menjadi keluhan petani. Berdasarkan data BPS akhir 2024, produksi padi justru menurun. Petani muda makin sedikit karena profesi ini dianggap melelahkan, kotor, dan panas,” jelasnya.

Heru juga menyebut, rata-rata petani hanya menggarap lahan 1.000 meter persegi dengan pendapatan sekitar Rp6 juta per tahun. “Wajar jika regenerasi petani berjalan lambat,” tambahnya.

Baca Juga :  2 Hari Hilang, Nelayan Tewas Mengambang di Pantai Cipalawah Garut

Dari perspektif mahasiswa, I Nyoman Sugidana menekankan pentingnya inovasi dan peran aktif pemuda.

“Saya anak petani dan sejak kecil akrab dengan dunia pertanian. Saat ini persoalan kita mencakup alih fungsi lahan, perubahan iklim, pupuk, irigasi, dan minimnya regenerasi. Mahasiswa harus kreatif dan inovatif, misalnya dengan rekayasa teknologi untuk mempercepat masa panen dan meningkatkan hasil pertanian,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi langkah pemerintah melalui BP BUMN Pupuk Indonesia bergerak cepat dengan memperkuat sistem distribusi, memastikan ketersediaan stok di lapangan, serta mempercepat penyaluran pupuk bersubsidi hingga ke tingkat petani. Langkah responsif ini menjadi bukti nyata sinergi antara kebijakan pemerintah dan implementasi di lapangan, sehingga manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh petani.

“Kami sebagai pemuda tentunya mendukung program swasembada pangan, ini perlu ditindaklanjuti secara serius bagaimana dalam mewujudkannya. Beberapa kebijakan di sektor pertanian sudah diberlakukan, salah satunya pemangkasan jalur distribusi pupuk agar dapat langsung ke tangan petani, sehingga memotong rantai distribusi. Selanjutnya ada kebijakan penurunan harga pupuk subsidi sebesar 20 persen yang tentunya menjadi angin segar bagi petani di Indonesia,” kata Nyoman.

Baca Juga :  Dandim 0826 Pamekasan Tekankan Disiplin dan Profesionalisme dalam Jam Komandan

Menurut dia, tindaklanjut instansi di sektor pertanian atas kebijakan pemerintah berdampak baik bagi pertanian tanah air.

“Kebijakan kebijakan Presiden Prabowo di sektor pertanian ini harus diimplementasi dengan baik oleh instansi terkait, salah satunya BUMN, contohnya Pupuk Indonesia yang telah menerapkan kebijakan penurunan harga eceran tertinggi pupuk subsidi dan pendistribusian dilaksanakan dengan baik oleh BUMN ini, dan ini bisa menjadi contoh bagi BUMN lain dalam menindaklanjuti kebijakan dari bapak Presiden Prabowo,” tutupnya.

Melalui Dialogista ini, BEM FP UB dan PIN berharap dapat memperkuat kolaborasi lintas sektor. Dan mengajak semua pihak untuk mengawasi proses distribusi pupuk agar benar-benar terserap untuk petani.

Follow WhatsApp Channel timesin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Babinsa Pademawu Ajak Pemuda Desa Tanjung Jauhi Bahaya Narkoba
Delapan Pejabat Berebut Kursi Sekda Sumenep
PMII UNIBA Sororti PR Calon Sekda Sumenep 2026 di Dinas Sebelumnya
Babinsa Koramil Larangan Dampingi Pengeboran Sumber Air Bersih di Desa Larangan Luar
Satlantas Polres Sumenep Amankan Lalu Lintas Pemangkasan Pohon
Apel Ops Keselamatan Semeru 2026, Polres Pamekasan Siapkan Kamseltibcarlantas
Rifa’s Scarf Torehkan Prestasi Gemilang di Fashion Show Trans Icon Mall Surabaya
Satlantas Polres Sumenep Gelar Polisi Sahabat Anak

Berita Terkait

Rabu, 4 Februari 2026 - 10:29 WIB

Babinsa Pademawu Ajak Pemuda Desa Tanjung Jauhi Bahaya Narkoba

Selasa, 3 Februari 2026 - 20:16 WIB

Delapan Pejabat Berebut Kursi Sekda Sumenep

Selasa, 3 Februari 2026 - 17:32 WIB

PMII UNIBA Sororti PR Calon Sekda Sumenep 2026 di Dinas Sebelumnya

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:48 WIB

Babinsa Koramil Larangan Dampingi Pengeboran Sumber Air Bersih di Desa Larangan Luar

Senin, 2 Februari 2026 - 11:47 WIB

Apel Ops Keselamatan Semeru 2026, Polres Pamekasan Siapkan Kamseltibcarlantas

Berita Terbaru

Kantor Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Sumenep. (Doc. Istimewa)

News

Delapan Pejabat Berebut Kursi Sekda Sumenep

Selasa, 3 Feb 2026 - 20:16 WIB

Kolom

Disfungsi Pemerintahan dalam Pelayanan Publik

Selasa, 3 Feb 2026 - 10:21 WIB

You cannot copy content of this page