Revolusi Gen Z, Kekuasaan Bisa Mereka Tumbangkan

- Publisher

Rabu, 10 September 2025 - 12:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Timesin.id, Jakarta – Gen Z jangan dikira hanya main games atau rebahan. Mereka memang jago bikin konten POV: “Aku vs dunia,” tapi jangan salah, ketika kesenangan mereka diusik, mereka bisa berubah jadi mesin revolusi paling kreatif yang pernah diciptakan sejarah. Jangan panggil “aku anak kecil, paman” inilah yang terjadi di Nepal. Simak narasinya, wak!

Begitulah yang terjadi di negeri pegunungan Himalaya yang biasanya kita kenal lewat poster wisata “tempatnya Sherpa dan Gunung Everest.” Semua tampak damai, sampai satu pagi pemerintah iseng-iseng menutup media sosial: Facebook, Instagram, X, Tiktok, YouTube. Pokoknya semua aplikasi yang jadi tempat Gen Z mengungkapkan kegalauan, flexing outfit, atau sekadar upload video kucing. Itu sama saja seperti mencabut Wi-Fi dari kos-kosan mahasiswa menjelang ujian, tindakan kriminal terhadap eksistensi.

Apa yang terjadi kemudian? Jalan-jalan Kathmandu meledak jadi catwalk revolusi. Anak-anak muda berbondong-bondong keluar, bukan dengan senjata, tapi dengan poster, ponsel, dan mental “kita lawan, wak!” Mereka datang seperti pasukan Avatar gabungan. Ada yang pakai outfit retro, ada yang live TikTok sambil demo, ada juga yang bikin koreografi protes. Polisi? Mereka malah kebingungan, karena bukannya menakutkan, protes ini awalnya mirip festival musik indie.

Tapi jangan salah, lama-lama tensinya naik. Gas air mata ditembakkan, peluru karet berdenting, dan bahkan peluru tajam ikut hadir. Tiba-tiba drama berubah jadi tragedi. Ada 19 nyawa melayang, ratusan terluka. Itu bukan lagi demo lucu-lucuan, itu jadi testimoni bahwa kalau negara main-main dengan generasi yang terbiasa marah via comment section, mereka bisa ngamuk langsung di jalanan.

Lalu, tuntutannya meluas. Dari “balikin Instagram gue” jadi “balikin harga diri rakyat.” Dari “gue cuma mau buka YouTube” jadi “turunkan korupsi, hapus nepotisme, tolong kasih gue masa depan.” Hingar bingar #NepoKids viral, isinya sindiran pada anak-anak pejabat yang hidup mewah, sementara pengangguran makin menumpuk. Ironi terbesar, pemerintah menutup platform yang dipakai untuk bersuara, tapi justru di situlah suara jadi lebih keras. Mereka lupa, Gen Z sudah terbiasa main game level hard mode. Ketika dinding kekuasaan ditutup, mereka malah nyari cheat code, turun ke jalan.

Baca Juga :  7 Bulan Kasus Pelecehan Mangkrak, Dear Jatim Desak Copot Aipda Agus Juliyanto

Di balik layar, muncul satu nama, Sudan Gurung. Bukan superhero Marvel, bukan juga idol K-pop, tapi pemimpin NGO Hami Nepal yang sukses bikin protes ini terorganisir lewat Discord dan Instagram. Ya, pemerintah nge-ban medsos, tapi para demonstran justru menjadikannya senjata utama. Mereka belajar dari sejarah, revolusi butuh ide, tapi di zaman ini revolusi juga butuh Wi-Fi. Hasilnya? Dalam hitungan hari, Perdana Menteri K.P. Sharma Oli menyerah. Beliau mundur dengan alasan “demi ketenangan negara,” Padahal jelas sekali karena kalah duel sama generasi yang senjatanya cuma meme dan hastag.

Absurdnya, dunia politik Nepal mendadak seperti episode parodi. Pemerintah sempat cabut larangan medsos, kasih kompensasi pada korban, janji investigasi, tapi rakyat sudah terlanjur sadar, kalau sekali saja mereka bisa bikin perdana menteri resign, apa lagi yang tidak mungkin? Itu seperti gamer yang pertama kali menang melawan boss level terakhir, percaya diri langsung meningkat 300 persen.

Baca Juga :  Pupuk Langka dan Harga Liar, DPD Tani Merdeka Bongkar Dugaan Permainan Kios di Pamekasan 

Pelajaran besarnya sederhana, jangan pernah remehkan generasi yang kelihatannya cuma sibuk bikin dance challenge. Karena di balik lirik lagu remix itu, ada kemarahan filosofis, “Kami juga manusia, kami juga butuh masa depan, kami juga muak jadi korban nepotisme.” Gen Z Nepal telah menunjukkan bahwa scroll tanpa henti di layar kecil bisa berubah jadi gulungan ombak besar yang meruntuhkan istana kekuasaan. Lain kali ada pejabat yang sok-sokan nge-ban media sosial, ingatlah, kekuatan “like, share, comment” ternyata bisa lebih mematikan dari bom molotov.

~ Itta R Hasibuan angkatan 66

Follow WhatsApp Channel timesin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Babinsa Pademawu Ajak Pemuda Desa Tanjung Jauhi Bahaya Narkoba
Delapan Pejabat Berebut Kursi Sekda Sumenep
PMII UNIBA Sororti PR Calon Sekda Sumenep 2026 di Dinas Sebelumnya
Babinsa Koramil Larangan Dampingi Pengeboran Sumber Air Bersih di Desa Larangan Luar
Satlantas Polres Sumenep Amankan Lalu Lintas Pemangkasan Pohon
Apel Ops Keselamatan Semeru 2026, Polres Pamekasan Siapkan Kamseltibcarlantas
Rifa’s Scarf Torehkan Prestasi Gemilang di Fashion Show Trans Icon Mall Surabaya
Satlantas Polres Sumenep Gelar Polisi Sahabat Anak

Berita Terkait

Rabu, 4 Februari 2026 - 10:29 WIB

Babinsa Pademawu Ajak Pemuda Desa Tanjung Jauhi Bahaya Narkoba

Selasa, 3 Februari 2026 - 20:16 WIB

Delapan Pejabat Berebut Kursi Sekda Sumenep

Selasa, 3 Februari 2026 - 17:32 WIB

PMII UNIBA Sororti PR Calon Sekda Sumenep 2026 di Dinas Sebelumnya

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:48 WIB

Babinsa Koramil Larangan Dampingi Pengeboran Sumber Air Bersih di Desa Larangan Luar

Senin, 2 Februari 2026 - 11:47 WIB

Apel Ops Keselamatan Semeru 2026, Polres Pamekasan Siapkan Kamseltibcarlantas

Berita Terbaru

Kantor Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Sumenep. (Doc. Istimewa)

News

Delapan Pejabat Berebut Kursi Sekda Sumenep

Selasa, 3 Feb 2026 - 20:16 WIB

Kolom

Disfungsi Pemerintahan dalam Pelayanan Publik

Selasa, 3 Feb 2026 - 10:21 WIB

You cannot copy content of this page