PAMEKASAN – Keluhan pengunjung kembali mencoreng wajah wisata Talang Siring, Kabupaten Pamekasan. Destinasi yang digadang-gadang sebagai ikon wisata pesisir itu justru menuai kekecewaan akibat minimnya fasilitas, sementara pungutan tiket masuk dan parkir tetap diberlakukan tanpa diimbangi pelayanan yang layak. Sabtu (03/01/2026).
Salah satu pengunjung, Muhri Andika, mengaku sangat kecewa dengan kondisi wisata Talang Siring. Ia menilai tidak ada keseimbangan antara biaya yang dikeluarkan pengunjung dengan fasilitas yang disediakan pengelola.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami bayar tiket masuk dan parkir, tapi fasilitasnya nyaris tidak ada. Toilet kurang layak, tempat duduk minim, kebersihan juga tidak terawat. Ini wisata atau sekadar tempat pungut uang?” tegas Muhri.
Ironisnya, wisata Talang Siring berada di bawah pengelolaan Pemerintah Desa Montok. Namun dalam praktiknya, pengelolaan tersebut dinilai lebih menonjolkan penarikan retribusi dibanding pembenahan fasilitas, sehingga memunculkan kesan bahwa wisata ini hanya dijadikan ladang keuntungan tanpa tanggung jawab terhadap kenyamanan pengunjung.
Sejumlah wisatawan lain juga menyampaikan keluhan serupa. Mereka menilai, pungutan tiket dan parkir tidak sebanding dengan fasilitas yang tersedia. Kondisi tersebut membuat wisata Talang Siring jauh dari standar destinasi wisata yang layak dan ramah pengunjung.
“Kalau begini terus, wisatawan pasti kapok. Jangan sampai potensi wisata rusak hanya karena pengelolaan yang tidak serius,” ungkap salah satu pengunjung yang enggan disebut namanya.
Untuk menjaga prinsip keberimbangan pemberitaan, wartawan telah berupaya mengonfirmasi Kepala Desa Montok selaku pihak pengelola wisata, serta Kepala Bidang Pariwisata Kabupaten Pamekasan terkait keluhan pengunjung tersebut. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan maupun klarifikasi resmi dari pihak-pihak terkait.
Minimnya respons dari pengelola dan instansi terkait justru memperkuat kekecewaan publik. Jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi merusak citra pariwisata Pamekasan dan menurunkan minat wisatawan berkunjung.
Masyarakat berharap, keluhan ini tidak terus diabaikan. Transparansi pengelolaan, perbaikan fasilitas, serta komitmen terhadap kenyamanan dan keselamatan pengunjung menjadi keharusan, bukan sekadar wacana.
Jika wisata hanya diposisikan sebagai mesin pungutan tanpa perbaikan nyata, maka pertanyaan publik menjadi sangat wajar: ke mana sebenarnya uang tiket dan parkir yang selama ini dipungut dari para pengunjung?












