NDP yang Dijinakkan: Ketika Kaderisasi Gagal Melahirkan Kepemimpinan Transformasional

- Publisher

Rabu, 24 Desember 2025 - 10:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Doc. Istimewa

Doc. Istimewa

*Penulis: Ika Cahya Adiebia, (Aktivis HMI)

 

KOLOM – Salah satu ironi terbesar dalam perjalanan Himpunan Mahasiswa Islam hari ini adalah kenyataan bahwa organisasi yang kaya akan nilai, justru miskin keberanian dalam menerjemahkan nilai itu ke dalam kepemimpinan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) terus dikutip dan diajarkan dalam forum-forum kaderisasi, tetapi semakin jarang digunakan sebagai alat ukur untuk menilai kualitas kader dan pemimpin.

NDP seolah hanya hidup dalam teks, namun melemah dalam praksis. Dari sinilah krisis kepemimpinan HMI bermula.

Masalah HMI hari ini bukan ketiadaan ideologi, melainkan penjinakan ideologi. NDP kerap diperlakukan sebagai dokumen sakral yang tidak boleh digugat, tetapi justru karena itu kehilangan daya kritisnya.

Ia dijaga agar tetap utuh secara verbal, namun dikosongkan secara politis. Kader diajarkan menghafal nilai, bukan diuji keberaniannya untuk hidup di bawah tuntutan nilai itu sendiri.

Dalam sistem kaderisasi, NDP sering berhenti sebagai legitimasi moral, bukan sebagai instrumen seleksi kepemimpinan.

Seseorang dianggap “kader baik” karena fasih berbicara tentang nilai, bukan karena konsisten memperjuangkannya.

Akibatnya, organisasi justru memproduksi kader-kader yang piawai beradaptasi dengan forum, tetapi gagap menghadapi konflik nilai di ruang nyata. Ini bukan kegagalan individu semata, melainkan kegagalan sistemik.

Baca Juga :  Konflik Palestina: Ketika Dunia Diam, Rakyat Sipil Harus Bergerak

Kaderisasi yang seharusnya menjadi ruang pembentukan karakter justru bergeser menjadi ruang reproduksi formalitas. Penilaian kader lebih banyak didasarkan pada loyalitas struktural, kedekatan personal, dan kemampuan mengelola citra, daripada integritas ideologis.

Dalam situasi seperti ini, NDP kehilangan fungsi paling pentingnya: sebagai pagar etik yang membatasi ambisi dan menuntun arah kepemimpinan.

Krisis ini semakin kentara ketika kader mulai memasuki posisi kepemimpinan. Alih-alih menghadirkan kepemimpinan transformasional, tidak sedikit pimpinan yang terjebak pada pola kepemimpinan transaksional: memelihara jaringan, menjaga stabilitas semu, dan menghindari konflik nilai.

Kepemimpinan direduksi menjadi kemampuan bertahan di struktur, bukan kemampuan mengubah keadaan. Dalam praktik seperti ini NDP tidak lagi menjadi sumber keberanian, melainkan aksesoris retorika.

Kepemimpinan transformasional menuntut keberanian untuk tidak nyaman. Ia menuntut pemimpin yang berani berbeda, berani menolak kompromi nilai, dan berani mengambil risiko moral.

Namun bagaimana mungkin kepemimpinan semacam ini lahir jika sejak awal kaderisasi justru mengajarkan bahwa ‘aman’ lebih penting daripada ‘benar’? Ketika kader dibiasakan untuk menyesuaikan diri demi kelancaran struktural, maka jangan heran jika yang lahir adalah pemimpin yang pandai membaca arah angin dan mengikuti arus, bukan arah nilai.

Baca Juga :  Resmi Ditutup, SEPIM 2025 HMI Lahirkan 'Pemimpin Berkarakter'

Lebih jauh, kegagalan mengaktualkan NDP dalam kepemimpinan juga tampak dari cara organisasi memandang kekuasaan. Kekuasaan sering dipahami sebagai ruang pengaruh, bukan ruang tanggung jawab.

Jabatan menjadi tujuan, bukan alat. Dalam situasi ini NDP kehilangan makna emansipatorisnya dan berubah menjadi simbol legitimasi bagi praktik kepemimpinan yang jauh dari nilai keadilan dan kemanusiaan yang diklaim.

Ironisnya, kondisi ini sering dibenarkan atas nama realitas. Nilai dianggap terlalu ideal, sementara politik organisasi dianggap menuntut kompromi.

Logika semacam ini berbahaya, karena secara perlahan menggeser NDP dari nilai dasar menjadi nilai dekoratif. Padahal justru dalam realitas yang penuh kompromi itulah nilai seharusnya diuji, bukan disingkirkan.

Jika HMI terus membiarkan NDP berhenti sebagai wacana, maka organisasi ini akan terus melahirkan pemimpin yang kuat secara struktur, tetapi rapuh secara nilai.

Pemimpin yang lantang berbicara tentang perubahan, tetapi diam ketika nilai dipertaruhkan. Ini bukan hanya masalah internal organisasi, melainkan masalah masa depan peran HMI di ruang publik.

Karena itu, aktualisasi NDP dalam membangun kepemimpinan transformasional harus dimulai dari keberanian melakukan koreksi internal.

NDP harus dikembalikan fungsinya sebagai alat uji, bukan sekadar alat legitimasi. Kader tidak cukup diuji pada apa yang ia ketahui, tetapi pada apa yang ia pertahankan ketika nilai berhadapan dengan kepentingan.

Baca Juga :  Sumenep di Bawah Bayang-bayang Perusakan Lingkungan

Kepemimpinan tidak cukup diukur dari kemampuan mengelola organisasi, tetapi dari keberanian menjaga integritas di tengah tekanan.

Forum-forum kaderisasi, terutama pada level strategis seperti LK III, seharusnya menjadi ruang paling jujur untuk membongkar persoalan ini. Bukan untuk saling menyenangkan, melainkan untuk menegaskan kembali arah perjuangan.

Jika forum kaderisasi masih takut pada kritik internal, maka jangan berharap lahir pemimpin yang berani mengkritik ketidakadilan di luar organisasi.

Pada akhirnya, masa depan HMI sangat ditentukan oleh satu pilihan mendasar: apakah NDP akan terus dijinakkan demi kenyamanan organisasi, atau dikembalikan sebagai kekuatan ideologis yang menuntut konsekuensi nyata.

Kepemimpinan transformasional tidak lahir dari kompromi yang berlebihan, melainkan dari keberanian untuk setia pada nilai meski harus berhadapan dengan risiko.

Jika HMI ingin tetap relevan sebagai organisasi kader, maka ia harus berani membayar harga ideologis itu. Tanpa keberanian tersebut, NDP akan terus dipuja dalam kata-kata, tetapi ditinggalkan dalam tindakan.

Lalu HMI akan kehilangan maknanya sebagai gerakan, bukan sekadar organisasi.

Follow WhatsApp Channel timesin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Disfungsi Pemerintahan dalam Pelayanan Publik
Kolaborasi Seni berbahasa dan Budaya di ujung timur
Minimal Keinginan untuk Membaca Di tengah Kegembiraan Scroll Sosial Media
Sumenep di Bawah Bayang-bayang Perusakan Lingkungan
Transformasi Pendidikan: Kunci Akselerasi Pertumbuhan Indonesia di Tengah Dinamika Global
Menyambut 2026: Pemulihan Nasional, Pendidikan Transformatif, dan Masa Depan Demokrasi Digital
Sepekan Tanpa Jawaban, Suara Mahasiswa Akhir Tak Digubris Petinggi Kampus
NDP Sebagai Basis Ketahanan Ideologi dan Karakter Kader HMI dalam Membangun Kepemimpinan Tranformasional

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:21 WIB

Disfungsi Pemerintahan dalam Pelayanan Publik

Rabu, 7 Januari 2026 - 13:13 WIB

Kolaborasi Seni berbahasa dan Budaya di ujung timur

Rabu, 7 Januari 2026 - 07:57 WIB

Minimal Keinginan untuk Membaca Di tengah Kegembiraan Scroll Sosial Media

Senin, 5 Januari 2026 - 16:56 WIB

Sumenep di Bawah Bayang-bayang Perusakan Lingkungan

Sabtu, 27 Desember 2025 - 11:32 WIB

Transformasi Pendidikan: Kunci Akselerasi Pertumbuhan Indonesia di Tengah Dinamika Global

Berita Terbaru

Kantor Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Sumenep. (Doc. Istimewa)

News

Delapan Pejabat Berebut Kursi Sekda Sumenep

Selasa, 3 Feb 2026 - 20:16 WIB

Kolom

Disfungsi Pemerintahan dalam Pelayanan Publik

Selasa, 3 Feb 2026 - 10:21 WIB

You cannot copy content of this page