Dorong Regenerasi Polri, HAMI Ingatkan Bahaya Kultus Figur

- Publisher

Sabtu, 28 Juni 2025 - 20:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Momen diskusi publik bertema Kapolri Abadi: Matinya Meritokrasi dan Mandegnya Regenerasi.

Momen diskusi publik bertema Kapolri Abadi: Matinya Meritokrasi dan Mandegnya Regenerasi.

JAKARTA – Desakan regenerasi di tubuh Kepolisian Republik Indonesia kembali mencuat. Himpunan Aktivis Milenial Indonesia (HAMI) menjadi salah satu pihak yang secara terbuka mendorong penyegaran di pucuk pimpinan Polri, menjelang Hari Bhayangkara ke-79.

Bagi HAMI, regenerasi bukan semata soal waktu jabatan atau usia kepemimpinan. Ini soal fondasi institusi: apakah Polri masih menempatkan loyalitas kepada sistem, atau mulai terjebak dalam kultus figur.

“Tanpa regenerasi, loyalitas bisa salah alamat. Dari institusi bergeser ke individu. Dan itu berbahaya bagi independensi dan profesionalitas Polri,” kata Asip Irama, Koordinator Nasional HAMI, dalam diskusi publik bertema Kapolri Abadi: Matinya Meritokrasi dan Mandegnya Regenerasi, di Jakarta Selatan, Sabtu, 28 Juni 2025.

Regenerasi Polri Merupakan Semangat Demokrasi

Isu regenerasi, menurut Asip, bukan agenda eksklusif internal Polri. Ini menyangkut semangat demokrasi dan etika kekuasaan. Dalam institusi publik, kekuatan harus terus bergulir, agar tidak mengendap menjadi pengaruh personal yang membatasi sistem.

Asip menyebut, saat proses kaderisasi tidak berjalan, Polri berisiko kehilangan orientasi. Perwira muda akan kehilangan motivasi. Lulusan akademi dengan prestasi akan melihat bahwa integritas bukan lagi tiket promosi.

“Jika kader terbaik tak mendapat ruang, maka kepercayaan terhadap sistem akan runtuh pelan-pelan. Itu bahaya diam-diam dalam tubuh institusi,” ujarnya.

Stagnasi Kepemimpinan

Menurut HAMI, ini bukan perkara siapa yang memimpin, tapi bagaimana sistem memberi tempat bagi yang layak. Ketika prinsip meritokrasi dikaburkan oleh kepentingan, regenerasi tak pernah benar-benar dimulai. Maka stagnasi bisa menjelma menjadi kenyataan yang tak diucapkan, tapi dirasakan.

Baca Juga :  Polres Pamekasan Tetapkan Empat Tersangka dalam Kasus Penganiayaan di Depan Masjid Agung As-Syuhada

HAMI juga menyentil kecenderungan perwira lulusan terbaik, termasuk Adhi Makayasa, yang mulai tidak muncul dalam peta kepemimpinan strategis.

Padahal, di masa lalu, mereka menjadi simbol kaderisasi dan keunggulan. “Kalau simbol meritokrasi tak lagi dipedulikan, maka motivasi internal pun luntur,” kata Asip.

Di tengah transisi pemerintahan, HAMI berharap Presiden Prabowo Subianto menangkap pentingnya regenerasi bukan sebagai urusan struktural semata, tetapi sebagai pesan politik: bahwa institusi penegak hukum harus terus diperbaharui agar tetap relevan dan dipercaya.

Baca Juga :  Kepala Perhutani Madura Lakukan Pembinaan Karyawan Di Kepulauan BKPH Sepanjang

Bagi Asip, regenerasi adalah tanda bahwa sistem masih hidup. Bahwa Polri sebagai institusi tak bertumpu pada kekuatan personal, tapi pada mekanisme yang memberi ruang pada yang muda, yang berprestasi, dan yang berintegritas.

“Ini bukan tentang siapa yang diganti. Ini tentang siapa yang diberi ruang, dan sistem macam apa yang memungkinkan hal itu,” kata Asip.

Diskusi tersebut ditutup dengan seruan agar regenerasi dijadikan bagian dari reformasi struktural secara menyeluruh. HAMI menyatakan komitmennya untuk terus mengawal proses ini sebagai bagian dari tanggung jawab warga terhadap arah kelembagaan negara.

Follow WhatsApp Channel timesin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Aksi Bisu Dear Jatim Soroti Maraknya Korupsi di Sumenep
PERANK dan Baramuda08 Mantapkan Audiensi dengan Kejaksaan Agung RI dan KPK
Fokus Pemulihan Pendidikan Pasca Bencana Aceh-Sumatera, DPR Desak Kesehatan Mental Siswa dan Guru Jadi Pilar Utama
Heboh Data Bantuan Untuk Korban Bencana Aceh dan Sumatera, Kementan Bilang Begini
Polisi Kebut Kasus Penganiayaan Kurir SPX di Bluto
Lewat Muskomda XVIII, Alfian Syukur Terpilih Jadi Ketua Pemuda Katolik Jawa Barat
Update Terbaru Korban Bencana Aceh Tamiang: 57 Orang Meninggal, 262 Ribu Masih Mengungsi
Gubernur Jatim Salurkan Bantuan Rp3,8 Miliar untuk Korban Bencana Aceh

Berita Terkait

Selasa, 9 Desember 2025 - 17:27 WIB

Aksi Bisu Dear Jatim Soroti Maraknya Korupsi di Sumenep

Selasa, 9 Desember 2025 - 12:52 WIB

PERANK dan Baramuda08 Mantapkan Audiensi dengan Kejaksaan Agung RI dan KPK

Selasa, 9 Desember 2025 - 10:45 WIB

Fokus Pemulihan Pendidikan Pasca Bencana Aceh-Sumatera, DPR Desak Kesehatan Mental Siswa dan Guru Jadi Pilar Utama

Minggu, 7 Desember 2025 - 20:31 WIB

Polisi Kebut Kasus Penganiayaan Kurir SPX di Bluto

Minggu, 7 Desember 2025 - 16:58 WIB

Lewat Muskomda XVIII, Alfian Syukur Terpilih Jadi Ketua Pemuda Katolik Jawa Barat

Berita Terbaru

Kolom

SERAKAH-NOMICS

Selasa, 9 Des 2025 - 14:14 WIB

You cannot copy content of this page