Dorong Kepercayaan pada Aparat, HAM-I Minta Masyarakat Tolak Adu Domba

- Publisher

Rabu, 17 September 2025 - 20:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Koordinator Nasional HAM-I, Asep.

Koordinator Nasional HAM-I, Asep.

JAKARTA – Ketegangan antara masyarakat dan aparat keamanan kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah aksi unjuk rasa berakhir ricuh dalam beberapa bulan terakhir.

Himpunan Aktivis Milenial Indonesia (HAM-I) mengingatkan pentingnya menolak provokasi dan agitasi yang berpotensi membenturkan rakyat dengan aparat.

Koordinator Nasional HAM-I, Asep, menilai bentrokan hanya akan melahirkan kerugian kolektif, merusak kepercayaan, sekaligus mengancam kohesi sosial bangsa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, peristiwa bentrok yang terjadi di sejumlah daerah harus menjadi pelajaran bersama bahwa provokasi dan agitasi hanya akan memancing konflik.

“Polarisasi sosial yang dibiarkan berlarut-larut itu bisa memicu spiral kekerasan. Jika masyarakat memandang aparat sebagai lawan, sementara aparat terpaksa mengambil langkah koersif, maka kepercayaan publik terhadap negara akan runtuh,” ujar Asep dalam pernyataan resminya, Rabu (17/9).

Bahaya Provokasi

Meski begitu, lanjut Asep, pola bentrokan yang kerap muncul dalam demonstrasi seringkali tidak lahir murni dari aspirasi publik, tapi dipicu oleh provokasi pihak-pihak tertentu.

Ia mencontohkan, dalam beberapa aksi, eskalasi konflik kerap berawal dari tindakan segelintir orang yang melemparkan botol, membakar fasilitas, atau menyebarkan ujaran kebencian di media sosial. “Inilah yang kita sebut agitasi: sebuah upaya memancing reaksi emosional agar aparat dan masyarakat saling berhadap-hadapan,” katanya.

Asep mengingatkan, dalam sejarah politik Indonesia, strategi adu domba semacam ini bukan hal baru. Provokasi dan adu domba antara publik sipil dan aparat hanya akan merusak citra bangsa dan memperlemah kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Baca Juga :  Polres Sumenep Telah Memanggil Beberapa Kades Soal Dugaan Korupsi Pokir DPRD

“Dulu digunakan untuk melemahkan kekuatan rakyat, kini bisa dipakai untuk merusak legitimasi aparat. Jika masyarakat termakan provokasi, mereka tidak hanya kehilangan fokus pada isu utama, tetapi juga kehilangan kesempatan untuk menyampaikan aspirasi dengan bermartabat,” ujarnya.

Kacanggihan digital saat ini, sorot Asep, isu-isu yang beredar cepat di media sosial sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk menyebarkan narasi adu domba. Pola agitasi semacam ini, menurutnya, dapat menyulut emosi massa sekaligus menekan aparat berada dalam posisi defensif.

“Inilah bahaya dari politik pasca-kebenaran. Masyarakat harus lebih bijak menyaring informasi, agar tidak terjebak dalam jebakan emosional,” katanya.

Asep juga menyambut baik langkah pemerintah dan kepolisian yang menegaskan komitmen hukum dalam kasus-kasus sensitif. Kasus meninggalnya driver ojol bernama Affan Kurniawan dalam aksi di Jakarta beberapa waktu lalu yang memicu gelombang kritik publik.

Menurutnya, kasus itu telah ditangani sesuai mekanisme hukum, bahkan mendapat perhatian khusus dari Presiden yang langsung memerintahkan Kapolri untuk memastikan proses hukum berjalan transparan.

“Ini menunjukkan bahwa negara tidak menutup mata. Mekanisme hukum bekerja, dan semua pihak harus memberi ruang agar proses ini berlangsung sesuai koridor,” tegasnya.

Baca Juga :  Babinsa Koramil Kota Perkuat Pengamanan Kunjungan Keluarga di Lapas Narkotika Pamekasan

Asep menekankan, menjaga keadaban publik bukan hanya tanggung jawab aparat, tetapi juga masyarakat. Tentu, aparat harus bersikap proporsional dalam mengawal unjuk rasa, begitu juga masyarakat harus menyalurkan aspirasi dengan cara damai dan tertib.

“Demonstrasi adalah hak, tapi harus dilakukan dalam bingkai hukum dan etik. Aparat pun harus mengedepankan pendekatan persuasif dan profesional. Bila kedua pihak menjalankan perannya dengan baik, tidak ada alasan konflik harus terjadi,” katanya.

Menurut Asep, upaya Polri melakukan reformasi internal, memperkuat pelatihan manajemen konflik, hingga menerapkan prinsip proporsionalitas penggunaan kekuatan merupakan langkah positif yang patut didukung.

“Langkah itu menunjukkan komitmen aparat untuk lebih adaptif dengan tuntutan demokrasi. Masyarakat seharusnya mendukung, bukan justru memperlemah,” tambahnya.

Komitmen Persatuan

Bentrokan antara masyarakat dan aparat tidak hanya menimbulkan kerugian di tingkat lokal, tetapi juga merusak citra negara di mata internasional. Laporan pelanggaran hak asasi manusia yang mencuat di berbagai media dapat mencoreng wajah Indonesia di forum global.

“Negara kita bisa dipersepsikan gagal mengelola aspirasi warganya secara damai. Itu tentu merugikan, baik dalam diplomasi, investasi, maupun kerja sama internasional,” ujar Asep.

Baca Juga :  Dear Jatim Kritik Mandeknya Penyelidikan Dugaan Korupsi Pokir DPRD Sumenep

Karena itu, menurutnya, semua pihak, baik pemerintah, aparat, masyarakat sipil, media, hingga akademisi, harus mengambil peran aktif meredam ketegangan. Jangan sampai, situasi rawan ini dimanfaatkan pihak tertentu untuk memercik api kemarahan dan chaos.

Asep menjelaskan, pihaknya akan terus konsisten mendorong pentingnya pendidikan keadaban publik, baik di ruang formal maupun informal. Generasi muda, kata Asep, harus dibekali kesadaran untuk menolak provokasi dan menjaga kohesi sosial.

“Kita harus belajar bahwa demokrasi bukan hanya soal kebebasan berpendapat, tetapi juga soal tanggung jawab sosial. Tanpa keadaban, kebebasan hanya akan melahirkan anarki,” ujarnya.

“tak kalah penting, media juga mesti tidak gegabah dalam menyajikan informasi. Media punya peran ganda: sebagai penyampai fakta dan sekaligus pendidik publik. Jangan sampai framing berita justru memperkeruh suasana,” tegasnya.

Asep mengajak semua pihak untuk menolak provokasi, agitasi, dan upaya adu domba. Ia menegaskan bahwa rakyat dan aparat sejatinya berada di barisan yang sama: menjaga bangsa dari keretakan.

“Tidak ada yang diuntungkan dari konflik antara masyarakat dan aparat. Yang ada hanyalah luka sosial, hilangnya kepercayaan, dan hancurnya citra bangsa. Mari kita jaga keadaban publik, mari kita rawat kohesi sosial. Persatuan Indonesia terlalu berharga untuk dirusak oleh provokasi sesaat,” pungkasnya.

 

 

Follow WhatsApp Channel timesin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Minim Transparansi, Pembangunan Gerai KDMP di Sumenep jadi Sorotan
Babinsa Palengaan Kawal Bantuan Irpom Pertanian 2025, Pastikan Tepat Sasaran untuk Petani
Aktivis Minta Verifikasi KDMP Sumenep Lebih Selektif
Persaingan Sekda Sumenep Mengerucut pada Dua Figur
Babinsa Palengaan Turun ke Lahan, Dampingi Petani Gambas Siap Panen demi Ketahanan Pangan
Hampir Setengah Tahun, Kasus Dugaan Pengrusakan Pohon dan Tanah di Bulangan Barat Masih Jalan di Tempat
Satlantas Polres Sumenep Uji Kelayakan Angkutan Jelang Idul Fitri
Rize Ikhwan Muttaqin: Pokir DPRD Pamekasan Sudah Diatur Undang-Undang, Klaim Rp160 Miliar Terlalu Berlebihan

Berita Terkait

Minggu, 8 Februari 2026 - 21:39 WIB

Minim Transparansi, Pembangunan Gerai KDMP di Sumenep jadi Sorotan

Sabtu, 7 Februari 2026 - 13:45 WIB

Babinsa Palengaan Kawal Bantuan Irpom Pertanian 2025, Pastikan Tepat Sasaran untuk Petani

Sabtu, 7 Februari 2026 - 09:27 WIB

Aktivis Minta Verifikasi KDMP Sumenep Lebih Selektif

Jumat, 6 Februari 2026 - 12:42 WIB

Persaingan Sekda Sumenep Mengerucut pada Dua Figur

Jumat, 6 Februari 2026 - 10:46 WIB

Babinsa Palengaan Turun ke Lahan, Dampingi Petani Gambas Siap Panen demi Ketahanan Pangan

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page