Kolaborasi Seni berbahasa dan Budaya di ujung timur

- Publisher

Rabu, 7 Januari 2026 - 13:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Timesin, Opini – Banyuwangi adalah kabupaten yang berada di ujung timur provinsi jawa timur, sering dijuluki The Sunrise of Java yang memiliki potensi kepariwisataan yang cukup melimpah serta sosial budaya yang masih kental dan terjaga sampai saat ini. Banyuwangi menyimpan harta karun budaya yang luar biasa: keragaman bahasa yang dipengaruhi oleh bahasa Jawa kuno, Madura, dan Bali. Lebih dari sekadar alat komunikasi, bahasa di sini adalah cerminan sejarah panjang perlawanan dan akulturasi. Keberagaman bahasa melahirkan kekayaan budaya yang menjadi identitas diri yang tidak terhitung nilainya.

Bahasa Indonesia membantu menciptakan identitas nasional dan perhubungan nasional, memungkinkan orang dari berbagai etnis dan latar belakang budaya berkomunikasi. Bahasa Indonesia dapat berfungsi sebagai alat atau “kendaraan” untuk memperkenalkan kekayaan lokal Suku Osing, termasuk adat istiadat, seni, dan arsitektur, ke khalayak nasional, daripada menjadi ancaman. Masyarakat di luar Banyuwangi dapat mengkomunikasikan, mengapresiasi, dan memahami nilai-nilai budaya Osing melalui tulisan, dokumentasi, dan karya seni berbahasa Indonesia.

 

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meskipun Bahasa Indonesia penting di lingkungan publik, Bahasa Osing harus tetap menjadi prioritas di lingkungan lokal dan komunitas, seperti di sekolah lokal dan percakapan sehari-hari. Bahasa Osing adalah dasar identitas dan kekayaan budaya lokal yang penting, sementara Bahasa Indonesia berfungsi sebagai perekat dan jembatan menuju integrasi nasional.

Baca Juga :  Kejagung Klarifikasi Kedatangan Penyidik di Kemenhut

Saya disambut dengan logat dan kosa kata yang berbeda dari bahasa Jawa yang saya kenal saat pertama kali tiba di Banyuwangi. Kata-kata seperti “Isun”, yang berarti “saya”, dan “paran”, yang berarti “apa”, digunakan oleh Lare Osing, yang berarti “anak Osing,” dan Jejer Jenggirat, yang berarti “semangat bangkit”, seolah-olah membuka pintu ke dunia unik dan kaya warna Suku Osing.

 

Penduduk asli Banyuwangi, Suku Osing, adalah komunitas budaya dan linguistik yang unik di ujung timur Pulau Jawa. Mereka juga merupakan kekuatan lokal dengan warisan tradisi yang kaya. Mengangkat Suku Osing sebagai kekuatan lokal berarti menghargai kearifan lokal yang telah membentuk karakter masyarakat Banyuwangi. Hal ini menumbuhkan rasa memiliki yang kuat terhadap budaya sendiri dan mencegah modernisasi menghancurkan batas-batas budaya lokal.

 

Dalam karya seni seperti analisis lirik kesenian tradisional, bahasa indonesia dan bahasa osing bekerja sama untuk mempelajari penggunaan diksi, metafora, dan gaya bahasa dalam lirik Tari Gandrung atau Kesenian Patrol/Kuntulan. Fokus analisis ini harus pada cara bahasa lokal menyampaikan pesan yang mendalam seperti cinta, perjuangan, dan spiritualitas, serta bagaimana pesan ini diterjemahkan dan dipahami dalam Bahasa Indonesia. Ada kesempatan untuk mempelajari kata-kata tertentu yang ditemukan dalam lirik Osing, yang meskipun sulit diterjemahkan secara harfiah ke Bahasa Indonesia, memiliki makna yang kaya.

Baca Juga :  Curhat yang Salah Arah: Ketika Pelarian Merusak Rumah Tangga

 

menegaskan bahwa keragaman budaya adalah kekayaan bangsa dan bahwa kolaborasi memperkuat identitas nasional. menunjukkan bahwa seni berbahasa dwibahasa ini adalah cara inovatif untuk membuat generasi muda (Lare Osing) bangga dengan bahasa Indonesia dan menjadi mahir dalam bahasanya. Interaksi dinamis antara Bahasa Indonesia dan Osing dalam seni menciptakan simbiosis mutualisme: kedua bahasa tersebut tetap hidup dan relevan di era modern, dan seni menjadi lebih kaya dan berakar.

 

Berkat kontribusi bahasa daerah, termasuk Bahasa Using Banyuwangi, perbendaharaan kata Bahasa Indonesia menjadi lebih kaya dan berwarna. Hal ini menunjukkan bahwa semangat budaya lokal meningkatkan identitas nasional. Menjaga dan mempromosikan bahasa daerah bukan hanya melestarikan warisan lokal, tetapi juga memastikan bahwa bahasa Indonesia terus berkembang sebagai bahasa yang fleksibel dan memanfaatkan semua kekayaan bahasa bangsanya.

Baca Juga :  Menggali Makna di Balik CSR Kepedulian Program Sosial Perusahaan: Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?

 

Saya percaya bahwa Banyuwangi semakin berkembang dari waktu ke waktu, terutama sekarang karena keindahan alam dan seni budayanya. Di zaman sekarang, pelestarian seni berbahasa (Penggunaan Bahasa) dan budaya Banyuwangi menghadapi banyak tantangan, terutama karena dominasi bahasa asing dan nasional. Namun, ada harapan untuk menjaga warisan penting ini tetap lestari melalui kerja sama pemerintah daerah, komunitas lokal, dan penggunaan teknologi digital.

 

sebelum isun berakhir. Kita harus bekerja sama untuk menjaga dan melestarikan budaya dan seni basanan. Mereka tetap diam dan terus bekerja. Semangat optimis harus menjadi landasan kita untuk hidup dan melestarikan budaya kita. Ayo padha menyebarkan kebecikan melalui seni budaya dan basa. Saya berterima kasih.

 

sebelum saya mengakhiri. Mari kita berkolaborasi untuk menjaga dan melestarikan budaya dan seni berbahasa. Teruslah bersinar dan berkarya! Kita harus menggunakan semangat positif ini sebagai landasan dalam berinteraksi dan melestarikan budaya. Mari kita tebarkan kebaikan melalui bahasa dan seni budaya kita. Saya berterima kasih.)

Follow WhatsApp Channel timesin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Disfungsi Pemerintahan dalam Pelayanan Publik
Minimal Keinginan untuk Membaca Di tengah Kegembiraan Scroll Sosial Media
Sumenep di Bawah Bayang-bayang Perusakan Lingkungan
Transformasi Pendidikan: Kunci Akselerasi Pertumbuhan Indonesia di Tengah Dinamika Global
Menyambut 2026: Pemulihan Nasional, Pendidikan Transformatif, dan Masa Depan Demokrasi Digital
Sepekan Tanpa Jawaban, Suara Mahasiswa Akhir Tak Digubris Petinggi Kampus
NDP Sebagai Basis Ketahanan Ideologi dan Karakter Kader HMI dalam Membangun Kepemimpinan Tranformasional
NDP yang Dijinakkan: Ketika Kaderisasi Gagal Melahirkan Kepemimpinan Transformasional

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:21 WIB

Disfungsi Pemerintahan dalam Pelayanan Publik

Rabu, 7 Januari 2026 - 13:13 WIB

Kolaborasi Seni berbahasa dan Budaya di ujung timur

Rabu, 7 Januari 2026 - 07:57 WIB

Minimal Keinginan untuk Membaca Di tengah Kegembiraan Scroll Sosial Media

Senin, 5 Januari 2026 - 16:56 WIB

Sumenep di Bawah Bayang-bayang Perusakan Lingkungan

Sabtu, 27 Desember 2025 - 11:32 WIB

Transformasi Pendidikan: Kunci Akselerasi Pertumbuhan Indonesia di Tengah Dinamika Global

Berita Terbaru

Kantor Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Sumenep. (Doc. Istimewa)

News

Delapan Pejabat Berebut Kursi Sekda Sumenep

Selasa, 3 Feb 2026 - 20:16 WIB

Kolom

Disfungsi Pemerintahan dalam Pelayanan Publik

Selasa, 3 Feb 2026 - 10:21 WIB

You cannot copy content of this page