Ketika Negara Gagal Mendengar

- Publisher

Jumat, 29 Agustus 2025 - 21:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Subhal jamil

Subhal jamil

*Oleh: Subhal jamil S. E, (Ketua Umum HMI Cabang Pamekasan)

 

KOLOM – Di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta, suara rakyat kecil kembali tenggelam oleh deru kendaraan taktis dan barikade aparat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kematian seorang pengemudi ojek online (ojol) dalam aksi demonstrasi bukan hanya luka bagi komunitas formal maupun informal, tetapi juga tamparan keras bagi negara yang seharusnya hadir sebagai pelindung, bukan penindas.

Baca Juga :  98 Resolution Network Inisiasi Membangun Jaring Solidaritas Sosial, Bagikan Sembako untuk Ojok Online

Tragedi ini bukan insiden tunggal. Ia adalah puncak dari akumulasi ketidakpedulian terhadap jeritan mereka yang hidup di pinggiran sistem. Namun, alih-alih dialog, mereka disambut dengan tindakan preventif yang berujung fatal.

Mobil taktis yang seharusnya digunakan untuk menghadapi ancaman ekstrem justru menjadi alat yang merenggut nyawa warga sipil. Ini bukan sekadar kesalahan prosedural; ini adalah kegagalan moral.

HMI Cabang Pamekasan menganggap insiden ini sebagai bukti matinya nurani aparat. Pernyataan tersebut menggambarkan keresahan yang lebih luas: bahwa negara, dalam banyak kasus, lebih memilih membungkam daripada mendengar.

Baca Juga :  Merayakan Semangat Emansipasi: Makna Hari Kartini di Era Modern

Ketika suara rakyat dianggap gangguan, bukan panggilan untuk perubahan, maka demokrasi sedang berjalan mundur.

Kita perlu bertanya: apakah negara masih mampu membedakan antara ancaman dan aspirasi? Apakah aparat masih memahami bahwa demonstrasi bukanlah bentuk permusuhan, melainkan ekspresi konstitusional dari kekecewaan dan harapan?

Opini ini bukan ajakan untuk membenci institusi, melainkan seruan untuk membenahinya. Negara harus kembali pada prinsip dasar: melindungi, bukan melukai.

Baca Juga :  Disfungsi Pemerintahan dalam Pelayanan Publik

Aparat harus dilatih bukan hanya dalam taktik, tetapi juga dalam empati. Dan kita, sebagai masyarakat sipil, harus terus mengawal agar tragedi seperti ini tidak menjadi norma.

Karena ketika negara gagal mendengar, bukan hanya suara yang hilang bahkan nyawa pun ikut melayang.

Follow WhatsApp Channel timesin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Disfungsi Pemerintahan dalam Pelayanan Publik
Kolaborasi Seni berbahasa dan Budaya di ujung timur
Minimal Keinginan untuk Membaca Di tengah Kegembiraan Scroll Sosial Media
Sumenep di Bawah Bayang-bayang Perusakan Lingkungan
Transformasi Pendidikan: Kunci Akselerasi Pertumbuhan Indonesia di Tengah Dinamika Global
Menyambut 2026: Pemulihan Nasional, Pendidikan Transformatif, dan Masa Depan Demokrasi Digital
Sepekan Tanpa Jawaban, Suara Mahasiswa Akhir Tak Digubris Petinggi Kampus
NDP Sebagai Basis Ketahanan Ideologi dan Karakter Kader HMI dalam Membangun Kepemimpinan Tranformasional

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:21 WIB

Disfungsi Pemerintahan dalam Pelayanan Publik

Rabu, 7 Januari 2026 - 13:13 WIB

Kolaborasi Seni berbahasa dan Budaya di ujung timur

Rabu, 7 Januari 2026 - 07:57 WIB

Minimal Keinginan untuk Membaca Di tengah Kegembiraan Scroll Sosial Media

Senin, 5 Januari 2026 - 16:56 WIB

Sumenep di Bawah Bayang-bayang Perusakan Lingkungan

Sabtu, 27 Desember 2025 - 11:32 WIB

Transformasi Pendidikan: Kunci Akselerasi Pertumbuhan Indonesia di Tengah Dinamika Global

Berita Terbaru

Kantor Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Sumenep. (Doc. Istimewa)

News

Delapan Pejabat Berebut Kursi Sekda Sumenep

Selasa, 3 Feb 2026 - 20:16 WIB

Kolom

Disfungsi Pemerintahan dalam Pelayanan Publik

Selasa, 3 Feb 2026 - 10:21 WIB

You cannot copy content of this page