SUMENEP – Minimnya aksi nyata dari Bea Cukai Madura dalam menindak rokok ilegal di Kabupaten Sumenep menimbulkan kekecewaan mendalam dari kalangan aktivis, Kamis (17/7).
Dalam audiensi terbuka yang digelar Selasa (16/7), kelompok pemuda Youth Strategy mengungkapkan kegagalan institusi tersebut dalam menjalankan fungsi pengawasan secara efektif.
Dua Poin Audiensi
Audiensi yang berlangsung di kantor Bea Cukai Madura itu berlangsung panas dan kritis, perwakilan Youth Strategy, Hasyim, secara langsung mempertanyakan dua hal pokok: sejauh mana langkah konkret Bea Cukai dalam menekan peredaran rokok ilegal dan sejauh mana pula lokasi gudang ilegal yang telah ditertibkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, jawaban yang disampaikan pejabat Bea Cukai dinilai tidak memadai dan hanya berkutat pada wacana kerja sama serta program sosialisasi yang bersifat normatif.
“Kami tidak datang untuk mendengar jawaban template. Kami datang dengan fakta di lapangan, bahwa rokok ilegal beredar masif, gudangnya ada, produksinya jalan terus, tapi Bea Cukai Madura seolah menutup mata,” tegas Hasyim, juru bicara Youth Strategy.
Bea Cukai Madura Dianggap Tak Serius Tangani Rokok Ilegal
Kritik tajam tersebut mengarah pada lemahnya respon institusi terhadap fakta pelanggaran yang nyata. Menurut Hasyim, pernyataan yang disampaikan pihak Bea Cukai tidak menunjukkan keseriusan, bahkan terkesan menghindari tanggung jawab.
Dalam forum itu, aktivis turut membawa sejumlah rujukan hukum, termasuk UU No. 39 Tahun 2007 tentang Cukai, UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, serta UU No. 17 Tahun 2003 tentang Kesehatan. Namun, seluruh dasar hukum tersebut tak mendapat jawaban sepadan.
“Rokok ilegal bukan lagi isu biasa. Ini menyangkut kerugian negara, keselamatan konsumen, serta maraknya eksploitasi pekerja lapangan. Tapi Bea Cukai justru terdengar permisif. Bahkan sempat disinggung bahwa pelaku pabrik ilegal bisa dirangkul agar berizin. Ini bukan solusi, ini bentuk pembiaran!” ujar Hasyim.
Kekecewaan kian dalam ketika narasi “merangkul pelaku ilegal” muncul dalam sesi audiensi. Bagi Youth Strategy, gagasan tersebut merupakan bentuk pembiaran dan potensi pelembagaan kejahatan dalam sistem negara.
“Bea Cukai seperti memilih jalan paling aman, menyasar kelas bawah dan membiarkan otak pelanggaran tetap berbisnis. Ini pengkhianatan terhadap keadilan,” kata dia.
Tebang Pilih Penindakan
Salah satu sorotan utama lainnya adalah praktik tebang pilih dalam penindakan. Kurir, sopir, dan pekerja lapangan lebih sering menjadi target operasi, sementara pemodal besar di balik produksi rokok ilegal tetap tak tersentuh.
Melihat respons Bea Cukai yang dianggap tidak menjawab urgensi masalah, Youth Strategy menyatakan akan terus melakukan pengawasan publik.
Bahkan, mereka bersiap menggelar aksi massa sebagai bentuk tekanan terhadap lembaga negara yang dianggap tidak menjalankan fungsinya.
“Kalau lembaga negara tidak mampu bertindak, maka masyarakat sipil harus bersuara lebih lantang. Kami akan turun ke jalan, membawa bukti dan suara rakyat. Jangan lagi normalkan pelanggaran atas nama ekonomi,” pungkasnya.